Kado Pernikahan untuk Sabrang
Selasa, 17 Maret 2009, saya menempuh rute panjang dari Surabaya ke Jogja, menghadiri sekaligus ikut berbahagia dalam tasyakuran pernikahan Sabrang- Noe Letto di Kasihan, Jogja. Tasyakuran itu, lebih kurang saya kira inisiatif Ayahnya. Karena itu pula, saya datang bukan atas pertemanan secara pribadi dengan Sabrang, tapi karena kedekatan secara budaya dengan Ayahnya.
Ayah Sabrang membangun pesantren jalanan Maiyah. Sedangkan saya hanyalah salah satu penuntut ilmu di pesantren itu. Dengan pernikahan Sabrang, tiba-tiba Ayahnya menjadi tua. Sebab, sebentar lagi akan sudah memiliki cucu. Kalau usia mengikuti jejak Rosul Muhammad, Ayah Sabrang tak akan bertahan sepuluh tahun lagi. Dan Sabrang tengah mengalami salah satu peristiwa penting dalam kehidupannya: menikah. Saya memiliki harapan pribadi, mendorong Sabrang memikirkan hal-hal yang telah dibangun oleh Ayahnya. Itulah alasan terbesar saya berangkat ke Jogja.
Sebagai penuntut ilmu, saya membaca kitab-kitab karya Ayah Sabrang. Saya mencari dengan bersemangat kisah perjalanan hidupnya. Saya berjuang hingga titik yang tidak mungkin meningkat lagi untuk menerjemahkan nilai-nilai yang dikembangkan Ayahnya. Dan semakin lama, rasa-rasanya saya semakin mencintainya.
Ayah Sabrang, pada masa mudanya adalah laki-laki yang ingin memburu eksistentinya sebagai penyair. Ia rela bersekolah. Hampir setiap malam. Di ujung utara jalan Malioboro. Bertabik kepada guru besar Panyair yang banyak melahirkan kader berkualitas tapi memilih hidup dalam sunyi: Umbu Landu Paranggi.
Dan dia mendapatkannya. Setelah berjuang belajar selama beberapa tahun, kumpulan puisinya menjadi juara dalam sebuah kompetisi yang diadakan oleh fakultas sastra Universitas Indonesia. Dengan kemenangan itu, Ayah Sabrang diakui sebagai Penyair. Namanya mendadak popular. Statusnya terangkat dari bukan siapa-siapa menjadi salah satu Penyair Muda Berbakat Indonesia. Kira-kira setaraf dengan “selebriti” di zaman image media sekarang ini. What Next? Ayah Sabrang telah masuk ke lingkaran elite sastrawan Indonesia, nek wis ngono trus ngopo? Mungkin, di puncak pencapaian cita-citanya itu, Ayah Sabrang kembali berada dalam kesunyian.
Lalu, Ayah Sabrang meningkatkan dirinya. Ayah Sabrang mulai masuk ke dunia intelektual yang gelisah. Bukan hanya dalam sastra, tapi dalam pergulatan soial. Ayah Sabrang melompat dari kepenyairan menuju dunia yang lebih luas dari puisi. Ayah Sabrang telah meng-up grade dirinya ke level cahaya yang lebih benderang.
Di tahun-tahun berikutnya, Ayah Sabrang tidak behenti. Setiap kali, Ayah Sabrang meningkatkan level cahayanya hingga ke batas yang lebih suci. Dengan menjadi aktivis social, memasuki wilayah politik nasional, bergumul dengan masyarakat luas, hingga membangun pesantren Maiyah. Dan mungkin, kelak- gerakan Maiyah.
Mungkin, saat ini Engkau sedang menikmati dirimu sebagai Noe Letto. Seperti halnya Ayahmu sedang menikmati kepenyairan pada masa mudanya dulu. Tapi lihatlah! Anak-anak muda seusiamu. Atau adik-adikmu yang menuntut ilmu di padepokan Ayahmu. Tidakkah Engkau memikirkan masa depan mereka? Mereka sedang tumbuh. Semangat mereka sedang membara. Tapi, belum tentu mereka memiliki kesempatan lebih lama untuk berinteraksi dengan Ayahmu. Entah berapa tahun lagi, saat mereka menuju kematangan, mereka membutuhkan pendamping. Manusia sekelas cahaya. Agar mereka menjadi matang menghadapi kehidupan. Sekali lagi, lihatlah mereka! Para penuntut ilmu di padepokan Ayahmu. Tidakkah tumbuh seberkas cahaya dalam hatimu untuk menemani mereka?
Tempo hari, saat Ayahmu bertanya di hadapan ratusan murid-muridnya tentang tujuan hidupmu masa depan, Engkau menyerahkannya kepada proses kehidupan. Karena Engkau adalah “Pencari Rahasia”. Dan sekarang lihatlah! Apakah anak-anak muda itu Engkau pandang sebagai bagian dari proses kehidupanmu atau tidak? Apakah mereka bagian dari rahasia yang harus kau ungkap atau bukan –menurutmu? Saya yakin, dengan penghormatan kepada Ayahmu dan berdoa untuk panjang umurnya, kelak mereka akan membutuhkanmu.
Demikian, kado pernikahan dari anak muda yang mencintai Ayahmu.
Rendra Saputra
| Comments |
|
|
|||||||||||
|
|||||||||||





