Surat Terbuka Jamaah Maiyah
Surat Cinta
Kepada Sahabat, Kakak sekaligus Guruku:
Emha Ainun Nadjib dan Jamaah Maiyah
Pada suatu kesempatan, saya membaca sebuah artikel di situs online. www.korbanlumpur.info dengan judul “Tentang Cak Nun dan Bang Rois Jancuk” diposting pada Monday, 28 July 2008. Lama saya membaca, menyimak, merenung dan menimbang. Ada sesuatu yang mengganggu hati saya. Sebab, isi tulisan itu sangat menyudutkan Cak Nun. Tuduhan bahwa Cak Nun sebagai kaki tangan Aburizal Bakrie (Minarak Lapindo) atau paling tidak Cak Nun memiliki kepentingan tertentu, sungguh menyakitkan. Apalagi, tudingan Cak Nun mengambil keuntungan materi, sejauh saya mengenal beliau, itu tidak dapat dipercaya. Sungguh!
Agar lebih merdeka, silakan membaca sendiri artikel tersebut. Sebab, iman saya berontak tatkala membacanya. Sampai hari ini, sejauh saya mengenal beliau, saya masih tetap percaya bahwa Cak Nun tidak mungkin melakukan itu semua. Maka, saya merespon artikel itu dengan komentar:
” …………………….
Kebenaran akan terkuak, kebenaran pasti menang..
Siapapun itu pasti tidak akan bisa menutupi kebohongan seberapa sakti dan kuat dirinya...
Saya buta tentang hal ini, entah mana yang benar...
Semoga Allah segera menunjukkan itu..
Membukakan hati orang-orang yang bersalah.
………………………….”
Kemudiam, komentar saya direspon oleh pembaca lain:
“ SEKALI TETAP…….. .NGGAK USAH BERLINDUNG DALAM TOPENG "KYAI/
BUDAYAWAN" SEGALA, YANG NAMA-NYA "BAJINGAN" TETAP
"BAJINGAN". DAN PERLU JUGA DI INGAT "GAK ONOK CERITO NEK MALING IKU AKAN MENGAKU MALING...". DAN YANG PASTI " ILMU MALING LEBIH TINGGI SATU TINGGAT DARI PADA ILMU SENG NANGKEP MALING...!!!!"
Membaca itu, saya tergerak untuk menulis lagi:
”…………….
Cinta
Cinta itu yang mungkin diajarkan oleh Para Guru. Bukan dengan caci-maki dan sumpah serapah..
Ketika Cinta yang bicara, tidak perlu ada pemukulan, kekerasandan intimidasi..
Kenapa harus mengubur cintamu?
Kalaupun ada teman, saudara, Guru, Kyai yang berbuat salah.. itu tetaplah hal yang wajar karena mereka manusia... Bukan Dewa.. Bukan Malaikat..
Ingatkan kembali dengan Cinta
bukan caci maki, umpatan, hinaan, kekerasan yang lebih keras lagi..
Kalau panjenengan menuduh Cak Nun maling, bengak-mbengok thok karo ngebuki teko mburi rasane yo.. Gak Tepak Rek..
Ayo.. dirembuk bareng.. digoleki masalahe..
Nek pancene Cak Nun maling, piye carane ngukum. Digoleki pasal-e gawe ngukum Cak Nun.
Kalau ternyata Njenengan yang salah sangka, yo.. kudu njaluk sepuro.
…………………………”
Komentarsaya direspon kembali oleh temannya Bang Ro'is
”……………Lha ayo, yo iku sing dienteni. Sampeyan ta sing kate nemokne Cak Nun ambek warga?
Lha awak dewe sampek perlu ngumbar 'wadi' iki nang publik lak saking
Cak Nun gak ngreken dan anak buahe tambah njah2an.
Ayo wes kapan iso
ketemu?
Tambahan:
Nek diwoco sing teliti, semangat tulisan iku dengan "cinta" lho. Tapi cintae arek Darjo ambek wong Jogya kan yo bedo sih? Lek Cak Nun sik ngaku Arek nJombang, mesti iso nangkep kok.
Sebelumnya saya pernah menulis di Forum www.bangbangwetan.com/forum
Gimana ya.
” ……………………Malam itu memang malam yang paling berkesan di Bangbang wetan. Meskipun malam-malam lain juga tidak kalah mengesankannya. Pertama saya dikejutkan oleh penampilan Pak Slamet, seseorang yang menurut saya luar biasa, dengan penampilannya yang kelihatan lusuh ternyata beliau punya pemikiran tajam terpelajar. Kemudian kehadiran Pak Muhammad Nuh serta launching website bangbangwetan.com. Kemudian, munculnya Ibunda tercinta Mbak Novia yang memohonkan pamit CakNun kepada Jamaah untuk kembali ngrekso lan topo broto di rumah.
Mungkin, keputusan itu mengejutkan bagi sebagian besar jamaah Bangbang wetan. Saya juga sangat menyesal di awal acara sempat bertanya pada Mbak Novia kenapa ini harus terjadi. Saya seharusnya juga ikut ngrekso kedalam, Cak Nun sudah lama sekali mempersiapkan hal ini. Cak Nun seringkali mengatakan bahwa pada suatu saat, hal pasti ini terjadi. Entah sementara, atau seterusnya. Hal yang pasti adalah: malam itu sudah menjadi 'titi wanci' .
Terlepas dari masalah apa yang terjadi, tidak perlu dicari sebab musababnya. Sudah saatnya jamaah bangbangwetan lebih 'ngrekso' kedalam diri masing-masing. Seperti yang dicontohkan Cak Nun saat ini. Beliau sedang memilih kembali bertafakkur dan menata hati.
Kalau Cak Nun saja memutuskan untuk ngrekso kembali ke padepokan, sudah semestinya kita juga melakkan hal yan g sama, bukan malah mencari-cari siapa yang salah dan siapa penyebabnya.
Kita perlu mundur sejenak, seperti Cak Nun. Kita ikhlaskan Cak Nun. Semoga untuk sementara waktu.
Ampuni kami Wahai Dzat, Wahai Ruh, Wahai Nur yang Maha Pengampun. Kami terlalu bodoh untuk bisa membaca petunjuk-Mu. Kami terlalu bebal untuk menerima pencerahan-Mu. Kami tertutup oleh dinding-dinding egoisme sehingga tak mampu melihat Cinta-Mu..
Maafkan saya Bunda Novia..
Maafkan saya Ayahanda, Guru, Kakanda, Saudara, Sahabat. Walaupun saya tidak pernah berjabat tangan denganmu, saya selalu ingin untuk menjadi muridmu. Anak deologismu.
Saya merindukan dekapanmu. Saya selalu merindukan siraman dan pencerahan Cintamu..
Maafkan saya bila saya tetap mengharapkan itu. Walaupun mungkin wujudmu tidak bisa hadir di tengah kami. Izinkan kami untuk menghadirkan engkau di hati kami, di ruh kami, di setiap pemikiran dan perkataan kami.
Izinkan kami untuk melakukan itu, agar itu bisa mengusir kerinduan kami kepadamu.
Izinkan kami tetap bisa merasakan kehadiranmu di qolbu-qolbu kami yang gersang..
Di qolbu kami yang sangat membutuhkan siraman air kehidupan.
Maafkan kami Cak Nun
Maafkan Kami Bunda Novia
Karena kami tetap merindukan kehadiran ayah, guru, penyegar, sahabat, di tengah-tengah kami. Kami terlalu egois untuk selalu berharap engkau hadir.
Semoga kami semua mendapatkan cahaya yang lebih cemerlang, Cinta yang lebih dalam dan ilmu yang semakin luas.
Terima kasih Cak, engkau telah banyak membuka simpul-simpul kebodohan kami..
Terima kasih.
………………………………….”
Sekali lagi saya mohon maaf Cak.. Keimanan saya terusik. Bagaimanapun, kepercayaan kami terhadap Njenengan sedikit terganggu dengan tulisan rekan-rekan korban Lumpur. Meskipun, keyakinan kami yang paling dalam mengatakan Cak Nun tidak bersalah..Tapi akalku berbicara lain: ada juga kemungkinan CN bersalah.
Kalaupun CN bersalah, kami tidak akan serta merta membenci. Bagaimanapun, selama ini Cak Nun telah memberikan pencerahan dalam setiap pertemuan yang sulit kami temukan pada perjumpaan ditempat lain. Ajaran kebenaran dan Cinta yang engkau tanamkan pada setiap kesempatan agar menghunjam jauh di kedalaman Qolbu kami.
Itu pula yang membuat kami yakin bahwa engkau tidak bersalah. Masya Allah engkau telah menghadapi ujian yang sangat berat. Izinkan kami membantu mengangkat sedikit beban berat itu.. Izinkan kami membantu dengan segenap kemampuan kami..
Guru, Cacak, sahabat yang kami sayangi..
Maafkan kalau kami sempat berpikir engkau mungkin bersalah. Alu ingin menebusnya. Maka, biarkan kami ikut merasakan penderitaan Njenengan. Izinkan kami berada di dekat Njenengan, membantu dengan sepenuh hati, waktu pikiran kami. Izinkan kami melakukan apa yang kami mampu untuk membantu Njenengan..
Dan untuk teman-teman Maiyah, mari merapat untuk membentuk Lingkaran Cinta seperti apa yang sering CN katakana pada kita semua..Lingkaran Cinta yang cahayanya bisa menembus dinding-dinding Amarah!!!
JM-Kompleks UNESA
| Comments |
|
|
|||||||||||
|
|||||||||||





