Beberapa tahun silam, saya dan beberapa kawan menumpang kereta dari Yogyakarta ke Solo untuk menjenguk seorang kawan lain yang sedang dirawat di rumah sakit. Uang saku kami: pas-pasan. Kami tiba di rumah sakit saat malam telah turun. Setelah beberapa saat ngobrol dan istirahat secukupnya untuk melenyapkan penat, kami pamit mohon diri kembali ke Yogya. Lapar? Ya. Tapi untuk makan malam, tunggu dulu. Sebelum makan, kami menghitung uang, membuat kalkulasi sederhana untuk menjamin bahwa uang kami cukup membawa kami berlima pulang ke Jogja. Hasilnya, dana makan malam 2500 per orang. Maka, kami memilih alternatif warung tenda di depan rumah sakit. Salah seorang kawan bertanya kepada pemilik warung berapa harga satu porsi makan?
Kami menunggu angka yang keluar dari mulut pemilik warung dengan cemas, khawatir jika aung kami tidak cukup. Tapi, jawaban yang didapat sungguh mengejutkan.
“ Sudah Mas, makan dulu! Kalau uangnya kurang, dibayar besok ndak apa-apa.”
“Rumah kami Jogja Bu,” tukas Kawan saya.
“ Ndak apa-apa. Nanti dibayar kalau ke Solo lagi.” Menakjubkan.





