KRISIS
BUNGLON POLITIK
| Bunglon, binatang sejenis reptil yang sering kita lihat merayap di pepohonan. Cepat merubah warna kulitnya sesuai dengan pigmen tempat yang dihinggapi (teknik kamuflase), apalagi bila merespon ada bahaya datang. Itulah naluri bunglon dalam komunitas ekosistemnya agar tetap bisa terjaga kontinuitas keseimbangan alam. Kehadiran manusia sebagai penguasa situasi (berakal) seharusnya beradaptasi lebih jauh lagi dalam menjaga dan menciptakan keseimbangan alam tersebut, bukan malahan merusaknya. Manusia sejatinya diciptakan menjadi pemimpin alam ini, sehingga membuat iblis iri kepada manusia. |
|
Situasi, gambaran fenomena perubahan di negeri kita selama 20 – 25 tahun terakhir dalam siklus 5 tahunan (terminologi interval waktu yang digunakan dalam Rencana Pembangunan Nasional Jangka Menengah dan Panjang). Pada tahun 1992 – 1997 terjadi krisis ekonomi yang memunculkan orang kaya tapi miskin, tahun 1997 – 2002 terjadi krisis politik yang memunculkan orang berkuasa tapi lemah, tahun 2002 – 2007 terjadi krisis ilmu yang memunculkan orang pandai tapi bodoh. Paling mengkuatirkan adalah tahun 2007 – 2012 akan terjadi krisis diri (spiritual dan kepribadian), yang akan memunculkan banyak orang beragama tapi kafir, orang suci tapi kotor, orang baik tapi jahat dan orang saleh tapi munafik. (Apakah tahun 2012 puncak kehancuran total sekaligus muncul kebangkitan baru?!)
Menjelang pesta politik 2009 dalam bingkai kepetingan kekuasaan dan ekonomi yang didukung dengan perkembangan teknologi transportasi dan informasi akan membentuk masyarakat kontemporer yang semakin cepat dan membesar. Teknik kamuflase bunglon akan diadopsi dan dikembangkan oleh para ”bunglon politik (political chameleon), yaitu orang yang ahli dan suka berganti warna, kulit, dan baju. Mereka memiliki teknologi kamuflase yang canggih, ahli menggunakan tanda-tanda dusta (false sign), tanda kepalsuan (pseudo sign), tanda artifisial (artificial sign) maupun tanda simulasi (simulacra), serta lihai menyembunyikan dirinya di atas berbagai warna-warni kehidupan (meminjam kata dan kalimat Yasraf Amir Piliang dalam bukunya Hantu-Hantu Politik dan Matinya Sosial, Tiga Serangkai 2003). Mereka akan menciptakan citra dirinya sebagai orang yang shaleh, suci dan baik dihadapan masyarakat dengan topeng-topeng teatrikalnya. Hal ini dilakukan agar mendapatkan dukungan atas kepetingan dan keinginan yang dikejarnya, akan tetapi akan berubah wujud menjadi seekor monster yang jahat bila kepentingan dan keinginannya sudah diraihnya. Kemudian mereka dengan bebasnya menanamkan idiologi horrorisme yang dibimbing oleh horrosophy dan dijalankan dengan horrocracy (politik penjemput maut).
Bunglon politik adalah para oportunis yang dengan cepat menyesuaikan dirinya dengan perubahan situasi sosial, politik, dan ekonomi sehingga selalu mampu mengambil keuntungan dimana saja dan kapan saja. Tersebutlah nama Mahpatih seorang pejabat tinggi Majapahit yang hidup pada pemerintahan Raden Wijaya bergelar Kartarajasa (1292 - 1309 M) dan Raden Kolo Gemet bergelar Jayanegara (1309 – 1328 M). Mahpatih sosok pejabat tinggi yang kaya tapi miskin, kuasa tapi lemah, pintar tapi bodoh dan suci tapi kotor, dia selalu menggunakan pendekatan political chameleon dan horrocracy dalam meraih kepentingannya.
Mahpatihlah yang menyulut dan mendesain terjadinya insiden dan kematian dari kalangan satria-satria tinggi Majapahit, sebut saja Ronggo Lawe, Mahisa Anabrang, Lembu Sora, Juru Demung dan Gajah Biru. Bahkan yang paling besar dampaknya adalah Insiden Lumajang (1316 M) sehingga semua keluarga Nambi dan para pembesar Majapahit di pihak Nambi (Pamandana, Mahisa Pawagal, Panji Anengah, Panji Samara, Panji Wiranagari, Jaran Bangkal, Jangkung, Teguh, Semi, Lasem dan Emban) mati terbunuh, tidak luput juga Arya Wiraraja mati terbunuh, kecuali ayahanda Nambi yaitu Pranaraja meninggal karena sakit 3 bulan sebelum insiden itu terjadi. Itulah cara Mahpatih dalam meraih kepetingannya untuk menjadi Patih Amangkubumi yang bergelar Dyah Halayudha. Meskipun akhirnya terkoak dan terbongkar juga topeng-topeng Mahpatih sehingga berujung hukuman mati dengan cara tubuhnya disayat-sayat di alun-alun Trowulan oleh setiap rakyat Majapahit yang lewat.
Bunglon politik sekarang jauh lebih beragam dan lebih besar, hadir disetiap lapisan masyarakat utamanya para elit-elit, dan mampu membangun network yang sinergis dalam meraih kepetingannya secara bersama-sama. Bangunan tersebut semakin permanen, mengkristal dan menggurita serta menemukan formatnya dalam sistem. Sementara di luar sistem dibuatkan panel-panel penggendali yang setiap saat bisa digerakan dan digunakan. Jaring laba-laba bunglon politik, dengan kamuflase semiotik (semiotic camouflage) membangun kamulfase informasi melalui teknologi informasi, sehingga bungkusan serta sebarannya begitu cepat dan meluas, baik di media elektronik maupun media cetak. Hidup Adalah Perbuatan, Kata Mbah Surip ”I Love You Full”
Andri Dwi Wiyono
Masyarakat Pembelajar
Komunitas KENDURI CINTA
Jakarta, 10-08-2008
(Buat Cak Puji : Ati-ati dan Alhamdulilah)






