REVOLUSI,
Bisa dimulai dengan ”menerima kondisi apa adanya”
Bisa dimulai dengan ”menerima kondisi apa adanya”
Revolusi, satu kalimat dengan beragam makna. Tergantung orang yang ingin memakainya, karena pada dasarnya penggunaan kalimat itu hanya sekedar perjanjian dunia untuk memudahkan manusia memberi pemahaman pada orang yang diajak berkomunikasi. Sama halnya dengan rumusan standar yang dipakai oleh komunitas eksakta dalam memberi identifikasi pada sebutan 1 meter, 1 kg, 1 detik dsb.
Saya tidak sedang membahas apa makna sebenarnya dari revolusi, karena saya bukan ahli bahasa. Yang saya pahami, revolusi itu adalah suatu tindakan yang bisa menghasilkan suatu perubahan besar. Saya mengajak anda untuk sepaham dulu dengan saya.
Setelah itu, mari kita coba membuat satu analisa sederhana, kira-kira tindakan apa saja dan tindakan yang bagaimana yang bisa membuat kita mengalami revolusi itu.
Ini sekedar cerita,
Barangkali bisa menginspirasi panjenengan semua untuk memaknai revolusi itu sama seperti saya memaknainya. Bukan bermaksud intervensi pemikiran, tapi barangkali cocok untuk anda terapkan dalam kehidupan anda sendiri. Saya tidak bisa mengungkapkan sesuatu seperti yang lain dengan bahasa yang lebih akademis, karena saya ini seorang ibu rumah tangga, yang hanya bisa ngetik pake ms-word.
Selama 7 tahun menjadi pengurus di sebuah lembaga pendidikan setingkat madrasah ibtidaiyah di desa saya, saya telah mengalami 4 kali pergantian kepala sekolah, 4 kali mengeluarkan surat pe-non-aktifan untuk dewan guru dengan beragam konflik yang menyertai pemberhentian itu. Saya mengikuti setiap perkembangan konflik yang terjadi, karena saya berada dalam posisi sebagai sekretaris pengurus, dimana setiap surat penonaktifan itu saya yang harus mengkonsep, mengetik, dan lalu menandatanganinya serta menyerahkan kepada yang bersangkutan.
Kesimpulan saya sekarang ini adalah, saya tidak merubah apapun dengan merubah komposisi personal. Baik itu kinerja apalgi peningkatan kualitas pendidikan.
Saya mengajak anda untuk menganalogkan kondisi sistem penataan personalia di madrasah saya ini dengan sistem penataan personalia yang ada di republik Indonesia tercinta ini.
Sama. 10 tahun lalu kita menggembar-gemborkan reformasi. Ok. Sudah terjadi dan sudah berjalan, sayangnya ternyata tidak sesuai dengan yang diharapkan oleh beberapa orang, termasuk guru kita, Cak Nun yang pada akhirnya kecewa dengan reformasi itu sendiri.
Sekarang beliau mencoba menggugah kita dengan REVOLUSI. Saya berfikir itu adalah satu bentuk persuasi kekecewaan pada kondisi yang ada. Tapi kemudian saya berfikir lain. Konsep revolusi yang bagaimana yang diharapkan? Cak Nun sendiri ketika dihadapkan pada satu kondisi real menganggap bahwa apa yang kita lakukan ini sepi. Kita tidak punya corong untuk mengatakan pada dunia tentang gerakan revolusi yang kita lakukan. Sehingga revolusi yang dicanangkan kembali menjadi agenda pembicaraan saja. Bukan sebagai juklak dalam pelaksanaan kehidupan sehari-hari.
Sebenarnya saya tidak setuju dengan yang dikatakan oleh Cak Nun dengan kalimat sepi itu. (tapi saya punya prasangka baik kepada beliau, bahwa kalimat itu dilontarkan karena ingin mengajak kita semua berbuat sesuatu, do it something, sekecil apapun perbuatan itu tapi bisa membuat perubahan yang sangat besar).
Saya hanya ingin berbagi dengan panjenengan semua. Pengalaman saya memberhentikan 3 Kepala Sekolah, 4 Dewan Guru itu menjadi awal sebuah pemikiran revolusi terbesar bagi saya. Saat ini saya mempunyai (nuwun sewu) KS yang lebih kopler dari 3 KS sebelumnya. Tetapi ketika pengurus yang lain ingin mengganti KS itu dengan orang lain, saya sendiri yang tidak setuju dengan hal itu. Saya akan mempertahankan keberadaannya, semampu saya. Disini peran revolusi membuat satu bentuk perubahan yang benar-benar bisa saya rasakan. Berapa kali kita mengadakan rapat, beradu argemen, bahkan melekan berhari-hari hanya untuk sekedar memutuskan siapa yang layak dijadikan sebagai KS. Lalu beberapa saat, setelah hasil yang diharapkan tidak sesuai, kita mengadakan rapat lagi, menonaktifkan KS dan lalu mencari mangsa lain. Sebenarnya, secara pribadi saya capek dengan birokrasi ini. Sama capeknya ketika kita harus kembali mendatangi TPS untuk memilih orang, bukan memilih sistem. Capek deh!
Lalu apa yang harus kita lakukan? Saya ada pengalaman.
Untuk menentukan siapa yang terpilih sebagai KS saja, saya harus berlelah-lelah, mengundang orang, menyiapkan konsumsi, memimpin rapat, beradu argumen, lalu mengambil keputusan dengan perasaan agak ketar-ketir apakah keputusan yang sudah saya buat ini benar atau salah?
Kemarin, setelah saya mengetahui bahwa KS pilihan kami tidak seindah warna aslinya. Sederet inventaris kesalahan ada di atas meja kerja saya, mulai indisipliner, penggunaan dana sekolah untuk hal pribadi, dan beberapa sifat dan sikap yang tidak masuk kategori kompeten sebagai KS, saya masih tetap berusaha keras untuk memeliharanya sebagai KS. Uji coba saya pada Kekuatan Revolusi yang dicanangkan oleh Cak Nun menjadi kekuatan tersendiri bagi saya untuk mensupport kebijakan yang saya lakukan. Berapa kali kita mengganti personel, berapa kali kematian hati nurani untuk meng-orangkan orang (dalam bahasa GusLuthfi, memanusiakan manusia), berapa kali saya harus mengawali tersenyum lebih dahulu jika kebetulan saya bertemu dengan mereka yang pernah saya non aktifkan, dengan kondisi tidak pernah mendapat senyuman balasan. Iya kalau di Pasar Turi ada stand khusus yang menjual kesabaran dan lapang dada, sedang kenyataannya Pasar Turi-nya saja sudah tidak sanggup mempertahankan dirinya sendiri. Saya kan juga bisa punya dendam hanya lantaran senyum saya tidak dibalas. Minimal, muncul kalimat, awas koen yo! Kalau sudah demikian, kita mau hidup dalam sistem apa?
Sudahlah dulur, ayo kita berhenti untuk melihat siapa orangnya, tapi kita akan berrevolusi yang sebenarnya jika kita mulai belajar menerima keadaan ini apa adanya. Mungkin benar, orang jawa punya survival lebih tinggi dibanding yang lain, karena kemampuan mereka hidup dalam kondisi apapun. Inilah revolusi yang sebenarnya.
Mau merubah dunia dengan mengganti personal? bisa jadi anda telah melakukan mosi tidak percaya terhadap keputusan Allah. Padahal sebegitu indahnya Allah memberikan susunan kepengurusan pada dunia ini. Manusia, yang disertakan didalamnya kekurangan-kekurangan dan kekurangajaran-kekurangajaran manusia itu sendiri.
Apa yang saya lakukan ketika saya mendapati KS yang saya pilih ternyata lebih kopler dari sebelumnya?saya berusaha melakukan tugas saya untuk menjadi supervisor yang baik, dengan cara memberikan contoh bagaimana melakukan tugas itu dengan sebaik-baiknya. Saya berusaha menjadi pekerja yang ikhlas membantu meringankan pekerjaan yang tidak sanggup dia lakukan, walaupun secara struktural saya harus jadi juragannya. Saya berusaha menjadi kontroler ketika dia melakukan kesalahan-kesalahan sehingga membantunya untuk memperkecil kesalahan. Ada hasilnya? Iya, keindahan memanusiakan manusia saya dapatkan, kinerja pendidikan saya dapatkan juga seiring dengan pencapaian prestasi yang diraih oleh para siswa. Indah sekali.
Seandainya Indonesia punya keindahan seperti itu, rakyat sebagai pemilik sah republik ini, bertindak sebagai supervisor yang memberi contoh bagaimana hidup yang bersih, baik dan tidak menyakiti orang lain, rakyat bertindak sebagai pekerja yang membantu tugas-tugas negara yang demikian berat, serta mampu sekaligus menjadi kontroler terhadap apa saja yang menjadi tata laksana pemerintahan yang dapat memperkecil kesalahan-kesalahan yang dibuat oleh para pemimpin, dan mengikhlaskan kehidupan ini berjalan sesuai dengan garis dan ketetapan Allah, bukan berdasarkan karep dan keinginan manusia yang sering tidak logis. Itu revolusi terbesar kita. SEMOGA.
(EMA/08062009)
| Comments |
|
|
|||||||||||
|
|||||||||||
Powered by !JoomlaComment 3.26





