Bangbangwetan

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home Berita dan Informasi Berita Jangan Cintai Ibu Pertiwi

Jangan Cintai Ibu Pertiwi

E-mail Print PDF
User Rating: / 0
PoorBest 

Kritik Negara Lewat Puisi

Ditulis Oleh: Red/Sindo, Bernadette Lilia Nova

 

MUSIK PUISI Sejumlah pemain mementaskan musik puisi berlakon Jangan Cintai Ibu Pertiwi di Gedung Kesenian Jakarta, Kamis (2/4) malam. Pentas musik dan puisi yang dibawakan Teater Dinasti, Emha Ainun Nadjib dan Kiai Kanjeng tersebut digelar sebagai wujud keprihatinan terhadap kondisi Indonesia.

 

 

Jangan cintai ibu pertiwi,karena ibu pertiwi telah menjanda enam kali.Itulah sebait puisi yang berisikan kritik terhadap ketimpangan berbagai bidang di negeri ini. Bait-bait kritik itu dibacakan dalam acara bertajuk “Pentas Kebahagiaan Musik Puisi Jangan Cintai Ibu Pertiwi”.

 

Siapa pun sudah mengetahui,Indonesia adalah negara yang sangat heterogen, terdiri atas berbagai suku, ras, agama, adat-istiadat dan aneka bahasa. Negeri ini didiami jutaan anak bangsa dengan beragam perbedaan budaya dan cara pandang terhadap sebuah persoalan. Menyikapi perbedaan masyarakat itu, Emha Ainun Nadjib bersama Kelompok Dinasti dan Kiai Kanjeng, menggelar pentas puisi tersebut di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), 2-3 April.

 

Berbeda dengan pentas puisi biasanya yang terkesan monoton, tanpa musik, dan dibawakan dengan nada suara yang selalu tinggi, membentak-bentak atau penuh kesunyian, tidak demikian dalam pementasan musik puisi berdurasi hampir dua jam tersebut.Perbedaan itu sudah terlihat sejak awal pementasan. Sebuah layar menampilkan gambaran wayang, atau ilustrasi masyarakat yang tengah antre,musik mengalun lembut diiringi alat-alat musik seperti biola, juga alat musik tradisional seperti gamelan dan rebana.

 

Setelah itu perlahan namun pasti, puisi demi puisi dibacakan dengan apik. Pentassemakinmenarikdengan sebuah patung terbuat dari jerami yang melambangkan negara,yaitu Indonesia. Agar kesan Indonesia terlihat nyata, patung jerami berukuran tinggi tiga meter tersebut dibalut dengan warna bendera, merah dan putih di bagian dada. “Jangan Cintai Ibu Pertiwi” adalah puisi panjang yang pemanggungannya digarap dengan menggunakan kekuatan berbagai artikulasi kesenian.

 

Selain dibacakan sebagaimana lazimnya puisi, pementasan ini juga diaransir secara musikal,” papar Emha. Yang membuat pementasan tersebut semakin menarik, adalah kepiawaian mengolaborasikan puisi,musik, dan teater dalam sebuah pementasan.Alhasil,pementasan itu tampak tidak kaku dan monoton. Bahkan, pengunjung yang memadati gedung kesenian ikut larut atau tertawa ketika kejadian lucu terjadi di atas panggung.

 

Seperti ketika para pemain mengomentari pengobatan alternatif ala Ponari. Adegan pengobatan alternatif itu diadaptasi dalam sebuah teater singkat dengan menampilkan seorang kakek yang memiliki sebuah tongkat sakti. Barang siapa yang bersentuhan langsung dengan tongkat itu, akan sembuh dari berbagai jenis penyakit. “Jangan percaya mistik, belum tentu tongkat Nabi Musa bisa membelah laut kalau sekali lagi dipukulkan ke laut. Itu anugerah yang diberikan Tuhan saat itu,” kata sang kakek yang memerankan diri sebagai Mbah Por.

 

Selain itu, pentas puisi juga memikat penonton dengan alur yang tidak diawali pada sebuah cerita yang dilakonkan. Alur berawal melalui dinamika muatan nilai-nilai yang terkandung dalam puisi panjang tersebut. “Pementasan ini merupakan keprihatinan kepada ibu pertiwi yang tidak kunjung sembuh dari sakit berkepanjangan, seperti nasionalisme, pemilu yang disoriented dan makin lenyapnya fungsi dan peran negara bagi rakyatnya,” tutur Emha menjelaskan.

 

Bukan saja pengobatan alternatif yang menjadi keprihatinan, bencana alam di Situ Gintung yang menelan korban hingga pemilu juga menjadi perhatian serius kelompok seniman ini dalam pementasannya. Sistem baru mencontreng pada Pemilu 2009 ini juga mendapat sorotan. Sistem baru tersebut digambarkan lewat tampilnya puluhan topeng yang mewakili wajah wakil rakyat yang sedang berkampanye.

 

“Repertoar ini merupakan cara kami untuk mengurangi keruwetan dan kebuntuan cara berpikir masyarakat dan pemerintah. Bangsa ini memerlukan keberanian untuk mempertanyakan yang salah dalam tata pikir,tata kelola,dan tata kuasa di negeri ini,” terang Emha lagi. Cara baru mengemas puisi yang dipentaskan Emha dan Kelompok Dinasti itu disambut positif oleh pemerhati kebudayaan, Indra Tranggono. Hanya, menurut Indra, bagi sebagian orang yang mengagungkan otonomi puisi, mungkin cara yang ditempuh Emha dan Kelompok Dinasti dianggap sebagai “gangguan” dalam sastra dan puisi.

 

Karena bagi mereka, kesakralan puisi itu terletak pada kesunyiannya,keterpencilannya pada alienasinya. “Emha yang menolak ‘sastra bisu’ tentu tidak sepaham dengan cara berpikir yang justru memiskinkan peran dan fungsi puisi.Bagi Emha, puisi tidak diukur hanya dari utak-atik kata, irama ataupun bahasa dan bentuk ungkap. Namun, puisi yang paling utama adalah nilai pesan di dalamnya,” kata Indra. (Sumber: Sindo, 5 April 2009)

Comments
Add New Search RSS
nfl jerseys sale  - nfl jerseys sale   |59.58.136.xxx |2010-03-12 15:44:27
100312sllgz That must be the story of innumerable youth nfl jerseys couples, and the pattern of life of life it offers has a homely grace. It reminds you of a placid rivulet, meandering smoothly through green nfl authentic jerseys pastures and shaded by pleasant trees, till at last it falls into the vastly sea.The true friendship seeks to give,not take wholesale nfl jersey to help,not to be helped minister,not to be throwback jerseys nfl ministered unto.When you are skinning your customers , you should leave some skin on to grow so that you can skin best nhl jerseys again.
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 

The Silent Pilgrimage

Kalender

March 2010
S M T W T F S
28 1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31 1 2 3

Agenda Kegiatan

No events

Medi Abdullah

Statistics

Members : 1256
Content : 186
Web Links : 6
Content View Hits : 152992

Pengunjung Online

We have 25 guests online