Bangbang Wetan Maret 2009
(Open For Public)
FREE - GRATIS
Kamis, 12 Maret 2009
Pukul. 19.00
Tempat : Gramedia Expo
Tema : Revolusi
Inilah hari-hati di mana manusia meletakkan dunia, kapital, modal dan segala sumber daya di tangan kanan, sementara Tuhan, para Nabi dan Agama digenggam di tangan kiri. Tangan kanan itu mengendalikan dan menjadi pelaku pergerakan-pergerakan utama dalam sejarah, menjadi pusat negara dan pembangunan—kemudian hanya pada saat-saat terpojok dan terancam saja genggaman tangan kiri dibuka, untuk kemudian Tuhan didayagunakan symbol-simbol-Nya untuk menyelamatkan diri. (Emha Ainun Najib, Titik Nadir Demokrasi, Penerbit Zaituna 1996, hal: 356)
2009 baru menginjakkan kakinya di bulan ketiga ketika kita terus dihadapkan pada fenomena-fenomena yang semakin menyesakkan. Badai krisis global yang berawal dari runtuhnya kekuatan finansial Amerika Serikat, harga minyak mentah dan beberapa komoditi penting yang mengalami fluktuasi tajam, invasi Israel ke jalur Gaza, perang dingin yang terus memanas antara dua Korea, antara Pakistan dan India, konflik perbatasan Thailand dan Vietnam serta sekian banyak berita lokal dan domestik menyangkut negeri tercinta menjadi berita utama seolah menjadi makanan wajib yang suka-tidak suka harus kita cerna hari ke hari.
Sejak 1998, setelah sebelumnya krisis moneter menghantam telak kekuatan ekonomi pembangunan yang digagas oleh “Orde Baru”, sebenarnya kita belum pernah merasakan suatu kondisi yang benar-benar “melegakan”, situasi yang “disetujui seperti apa bentuknya dan diakui keberadaannya”. Kita masih berputar-putar pada definisi mengenai bentuk ideal tatanan politik, ekonomi, kebangsaan dan sosial kenegaraan.
Bergulirnya tampuk kepemimpinan nasional tidak diikuti dengan kontinuitas arah kebijakan yang berkesinambungan dan--yang lebih penting—sesuai harapan. Belum selesai satu penyelesaian permasalahan, kita diharuskan (“harus” karena golput adalah haram menurut MUI!) berperan aktif dalam pemilihan anggota dewan perwakilan di bulan April serta presiden di bulan Juli.
Oalah Gusti….apa pula yang sedang kami alami ini?. Masih jauh dari kenyang perut kami menikmati susah payah kerja fisik dan mental dengan upah yang sangat seadanya ini. Tangeh lamun, jurus-jurus silat dan akrobat yang kami jalani ini bisa memberi jaminan bagi kelanjutan sekolah anak-anak kami. Tak berani kami membayangkan hidup berkelayakan, nyandang dan mapan yang berharkat kemanusiaan. Sesak napas kami, menyaksikan betapa kami terus “diatasnamakan”, di seru-seru saat pidato dan di cetak indah di baliho-baliho.
(Rio NS, 1 Maret 2009)
| Comments |
|





