Bangbangwetan

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home Catatan Perjalanan Catatan Panggung: Jalan Sunyi Puisi

Catatan Panggung: Jalan Sunyi Puisi

E-mail Print PDF
User Rating: / 0
PoorBest 

Jalan Sunyi Puisi


Beberapa waktu lalu, di Balai Soedjatmoko Surakarta, diselenggarakan pentas musikalisasi puisi. Pentas itu menjadikan puisi-puisi Sapardi Djoko Damono -mantan guru Sekolah Dasar di Madiun yang kemudian menjadi Guru Besar Sastra Universitas Indonesia- sebagai subyek utama. Di zaman blackberry ini, musikalisasi puisi adalah pertunjukan seni yang jarang, kalau tidak bisa dibilang langka. Pendukung utama musikalisasi puisi ini barangkali hanya segelintir aktivis teater di kampus-kampus. Mereka berusaha bertahan dalam -atau keras kepala mencintai- sesuatu yang “serupa kuno” ditengah seni pertunjukan generasi MTV yang heboh.

 

Puisi adalah –dan akan selalu menjadi- dunia yang sunyi. Puisi, bagaimana pun tidak akan mampu heboh, semarak dan heroik. Dia lahir dari kedalaman rasa. Perenungan yang jernih. Endapan emosi yang lindap. Bagaimana puisi bisa memiliki karakter yang mirip dengan “dunia MTV” yang cepat, keras, diburu target dan keuntungan financial yang sedang didukung habis-habisan oleh anak-anak muda, jika mereka lahir dari rahim yang bertolak belakang. Dengan demikian, di zaman ini, puisi seperti diikat dan dipojokkan ke sudut sejarah yang berdebu.

Demikian halnya dengan pertunjukan musikalisasi puisi, dia pun menjadi seperti sesuatu yang kesepian di tengah para pemuja ke-heboh-an. Sebab, dia tidak dengan mudah mengikuti selera pasar, lebih tepatnya: selera pemilik modal. Di tengah-tengah jalan raya kapitalisme global yang ekstrem: mulus, semarak dan gemerlap, puisi memilih jalan setapak yang mendaki: kecil, berlumut dan becek. Maka, musikalisasi puisi atau pembacaan puisi yang dikolaborasikan sedemikian rupa dengan nada, irama dan diiringi bunyi alat-alat musik menjadi anti budaya.

Menjadi aneh jika sebulan menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) RI bulan Juli mendatang, Emha Ainun Nadjib dan Kiai Kanjeng memilih mementaskan musikalisasi puisi atau menurut istilah mereka “puisi pitutur” di Balai Pemuda Surabaya. Mengambil tema tentang Pemilihan Presiden, Emha dan Kiai Kanjeng memilih jalur yang sepi: jalan setapak yang mendaki itu. Pentas musikalisasi puisi pasti tidak mendatangkan puluhan ribu orang, tanpa teriakan heroik dan slogan, tanpa pertarungan silat lidah yang lihai seperti halnya kampanye.

Musikalisasi puisi pasti juga bukan produk yang bagus untuk meraup rating yang tinggi dan slot iklan yang penuh sesak. Karena itu, dia tidak akan menarik minat para produser program Televisi. Maka, mementaskan musikalisasi puisi hari ini adalah memilih untuk menempuh jalan sunyi. Tapi, mengapa Emha, Kiai Kanjeng dan penyelenggara bersikukuh mementaskannya? Adakah sesuatu yang berharga yang nilainya jauh melampaui semua pertimbangan-pertimbangan rasional sebuah pementasan? Atau hanya sentimentil belaka pada kejayaan puisi era 70-80an.

Itu pertanyaan yang saya kira tidak akan dijawab oleh mereka. Namun, kita bisa meraba-rabanya dengan merujuk pada pengalaman pementasan Emha. Beberapa contoh patut dicatat dalam sejarah seni pertunjukan Nusantara. Dulu, dekade 80an, Emha dan teater Dinasti mementaskan Geger Wong Ngoyak Macan. Pementasan itu dirancang untuk memperingatkan, mengantisipasi atau menandai zaman saat program pembersihan para preman, begal dan begundal rampok yang dikenal dengan Petrus, dimulai.

Beberapa tahun kemudian, Emha kembali mementaskan repertoar Lautan Jilbab di era 90an. Pementasan Lautan Jilbab mendapatkan sambutan yang luar biasa dari masyarakat luas. Bahkan, di alun-alun Madiun, Lautan Jilbab ditonton oleh 30 ribu manusia yang -menurut Sujiwo Tedjo- menjadi sejarah besar dalam dunia teater Indonesia. Tak bisa disangkal, masa-masa itu adalah awal kebangkitan Muslim di lapangan sosial, budaya dan relasi baru dengan kekuasaan Orde Baru.

Tahun lalu, setelah lama bersembunyi dari seni panggung, Emha, Dinasti dan Kiai Kanjeng mementaskan Tikungan Iblis di Yogyakarta, Surabaya dan Jakarta. Rasanya, kita masih perlu menunggu belasan tahun untuk melihat apa yang telah disampaikan Emha dalam Tikungan Iblis. Dan tanggal 9 dan 10 tempo hari, Emha dan Kiai Kanjeng kembali ke panggung dengan Puisi Pitutur Presiden Balkadaba. Dalam lima tahun, kita sudah akan menyaksikan kenyataannya.

Louis Andrea Pinot

Pemerhati Kesenian Timur

Comments
Add New Search RSS
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 

The Silent Pilgrimage

Kalender

March 2010
S M T W T F S
28 1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31 1 2 3

Agenda Kegiatan

No events

Medi Abdullah

Pengunjung Online

We have 20 guests online