Iman 2
Bagian 2
Drs. Ahmad Fuad Effendy MA
Indikator pertama adalah idza dzukirallahu wajilat qulubuhum — apabila nama Allah disebut, hatinya bergetar. Orang beriman adalah orang yang cinta dan sekaligus takut kepada Allah. Rasa cinta dan rasa takut itulah yang membuat seseorang tergetar hatinya ketika nama dari yang dicintai dan ditakutinya itu disebut. Hanya diri kita sendiri yang mengetahui dan merasakan, bagaimana reaksi dan gerak hati kita, ketika nama Allah disebut.
Ketika mengucapkan Allahu Akbar dalam shalat, apakah hati kita bergetar, menyadari betapa agungnya Allah dan betapa kecilnya dunia seisinya, termasuk diri kita sebagai makhlukAllah. Getaran ini menimbulkan kesadaran bahwa kita tidak layak bersikap sombong kepada sesama manusia apalagi kepada Allah.
Ketika mendengar atau menyebut asma Allah Ar-Rahman Ar-Rahim, apakah hati kita bergetar, menyadari betapa luas dan dalamnya kasih Allah kepada kita, sehingga kita terdorong untuk selalu bersyukur, menjauhkan diri dari sikap putus asa dalam mengaungi samudera kehidupan yang penuh tantangan ini.
Ketika mendengar atau menyebut sifat Allah Maliki yaumiddin — Penguasa hari pembalasan, apakah hati kita bergetar, menyadari betapa maha kuasanya Allah dan menyadari bahwa di hari kiamat nanti tidak ada seorang pun yang dapat melepaskan diri dari pengadilan Allah.
Ketika mendengar dan menyebut sifat Allah Azizun Dzuntiqam — Maha Perkasa dan Penuntut balas, apakah hati kita bergetar, menyadari betapa perkasanya Allah, dan menyadari bahwa setiap bentuk kedurhakaan dan kemaksiatan kepada Allah akan memperoleh hukuman yang setimpal.
Ketika kita tergoda untuk melakukan kejahatan dan kemaksiatan, lalu kita dengar nama Allah disebut, apakah hati kita bergetar, takut, dan kemudian mengurungkan perbuatan jaha yang hendak kita lakukan.
Getaran-getaran di hati itulah yang membuat kita berhati-hati dalam menjalani kehidupan, dan mendorong kita segera beristighfar dan bertaubat, kemudian mengurungkan atau menghentikan perbuatan maksiat.
Salah satu sifat orang bertakwa, sebagaimana disebutkan oleh Allah dalam surat Ali Imran 135.
Dan orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun atas dosa-dosa mereka.
Indikator batiniah kedua adalah wa idza tuliyat ‘alaihim ayatuhu zadathum imanan — apabila ayat-ayat Allah dibaca, bertambah kuatlah imannya. Ayat-ayat Allah terdapat di dalam Al-Qr`an dan tersebar di alam semesta. Firman Allah dalam surat Ali Imran 164:
Sungguh Allah Telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al hikmah. dan Sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.
Kemudian firman Allah dalam surat Fushshilat 53:
Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap cakrawala dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?
Tanda orang beriman adalah, ketika mendengar, membaca, atau menyaksikan ayat-ayat Allah di dalam Al-Qur`an dan alam semesta, imannya bertambah-tambah kuat.
Ketika memperhatikan kebesaran alam semesta, menyaksikan kehebatan manusia, yang segera masuk ke dalam pikiran orang beriman dan memenuhi rongga dadanya adalah kebesaran Allah. Maka ucapan spontan dari mulutnya adalah Subhanallah Allahu Akbar Rabbana ma khalaqta hadza bathila — Mahasuci Allah dan Mahabesar, ya Rabbi tidaklah Engkau ciptakan semua ini sia-sia.
Ketika membaca Al-Qur`an, orang beriman melakukan interaksi secara total, dengan segenap hati dan pkiran, sehingga setiap ayat yang dibaca neneguhkan imannya. Manifestasi dari keteguhan iman itu adalah ketenteraman hati, ketercerahan pikiran, keterpesonaan kepada kemukjizatan Al-Qur`an.
Banyak di antara kita yang cukup puas dengan membaca Al-Qur`an sebagai sebuah bentuk peribadatan dan untuk mengumpulkan pahala. Ada pula di antara kita yang membaca Al-Qur`an hanya dengan pikiran, tanpa disasari oleh keimanan dan kejujuran, sehingga yang terjadi kadang-kadang bukan penguatan iman melainkan keraguan kepada kebenaran Al-Qur`an.(Bersambung)





