Bangbangwetan

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home Review Review Bangbangwetan Madura, Merdeka!!!

Madura, Merdeka!!!

E-mail Print PDF
User Rating: / 0
PoorBest 
Kajian Bangbang Wetan

Bangbang Wetan, 15 Agustus 2008

Review

D Zawawi Imron hadir secara tidak sengaja ke bangbang wetan mungkin sengaja diperjalankan oleh Allah untuk mengisi ruang kosong dalam hati yang biasanya ditempati oleh Cak Nun. Sebab, malam itu, Cak Nun berhalangan untuk hadir. D, si Ombak Lautan Madura ini memberikan presentasi pertama kali. Beliau mengeksplorasi kemerdekaan dalam tafsir kebudayaan.
“ Setiap orang dilahirkan dengan Merdeka,” begitu D menyitir I la Galigo: epik Bugis terpanjang yang pernah ditemukan sepanjang sejarah. Mengalahkan Mahabarata dan Ramayana dari India.

Jadi, sejak berabad-abad lalu, masyarakat Nusantara sudah mengenal “kemerdekaan”. Salah satu faktanya adalah I La Galigo yang sudah dipentaskan Robert Wilson di 15 kota dunia kecuali Jakarta tersebut.

D juga mengungkapkan bagaimana Islam juga merupakan sumber inspirasi bagi kemerdekaan.

“ Ingat: tauhid itu artinya memerdekakan manusia dari selain Allah. Cak Nun merumuskan tauhid dengan bahasa kebudayaan sebagai “menomorsatukan Allah”. Siapa yang menomorsatukan Allah, dia akan dinomorsatukan oleh Allah. Siapa yang dinomorsatukan Allah, dia bebas dari siapa pun. Dia telah merdeka. Setiap teriak Allahuakbar, itulah pernyataan kemerdekaan.”

“ Diantara makhluk di bumi ini, kita hanyalah salah satunya. Diantara semesta yang maha luas ini, bumi hanya setitik debu. Apalagi kita. Tapi, kalau kita bertakbir, walaupun kita hanya setitik debu, kita akan dimerdekakan oleh Allah.”

D juga menyitir seorang raja zuhud untuk menjelaskan keadilan memerintah:
“ Janganlah hujan menyiram ladangku, jika tak membasahi seluruh bumi.”
Alangkah indahnya. Dia rela tidak menikmati kenikmatan jika itu hanya untuk dirinya sendiri dan tidak berlaku bagi orang lain.

Sedangkan    Sukowidodo memberikan tafsir kemerdekaan dari sisi sosial-politik mutakhir. Saat ini, dunia sedang dikuasai oleh neoliberalime. Maka, merdeka, menurut Sukowidodo berarti membebaskan diri dari konstruksi berpikir yang dibangun oleh “syetan”. Syetan itu bisa berarti system politik, system ekonomi, dsb. Sehingga, kita-dengan paradigma berpikir sendiri- bisa merdeka berpikir, merdeka bersikap dan merdeka bertindak.

Sementara, Tari- yang pejuang lingkungan bersama komunitas Sapu Lidi- memberikan tafsir kemerdekaan yang dijalani komunitasnya: para perempuan di kalangan masyarakat pinggiran.

Menarik lagi Ki Sudrun. Sudrun menafsirkan kemerdekaan dilihat dari pandangan Islam. Merdeka juga berarti  lilo: merelakan sesuatu terjadi terhadap diri sendiri maupun orang lain.   Lilo ini ada hubungannya dengan postulat Jawa: ojo ngukur pedaringane liyan. Jangan mengukur diri sendiri dengan jatah rezeki orang lain. Jadi, merdeka juga berarti membebaskan diri dari potensi untuk menanamkan kedengkian. [R-190808-TKR]
 
Pembicara:
D Zawawi Imron ( Penyair )
Sukowidodo ( Akademisi UNAIR )
Hari Putri Lestari ( Pejuang Lingkungan )
Ki Sudrun

Tema
Kemerdekaan?
Comments
Add New Search RSS
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 

The Silent Pilgrimage

Kalender

September 2010
S M T W T F S
29 30 31 1 2 3 4
5 6 7 8 9 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 1 2

Agenda

Medi Abdullah

Statistics

Members : 2388
Content : 199
Web Links : 6
Content View Hits : 212367

Pengunjung Online

We have 17 guests online